Yurisprudensi Sesat?

Foto Istimewa : Seorang Petani Berjuang Menaburkan Pupuk di Sawahnya. Mereka Tak Tahu, Apakah Pupuk yang Mereka Tabur Palsu Atau Asli?

Oleh : Rully Efendi 

Negara kita, sepertinya tak pernah bisa lepas dengan persoalan pangan. Selalu ada masalah. Paling tersorot,  saat harga melambung naik. Terbaru,  kedelai dan cabai. Beras pun, tak jarang negara harus import. Padahal, kita sering membanggakan Indonesia negara agragris. 

Koes Plus, sampai tak ragu mengarang lagu Kolam Susu. Karena mereka sadar, tanah di bumi pertiwi, begitu subur menghidupi. Tapi kenapa selalu ada masalah pangan di negeri subur ini? 

Boleh karena cuaca. Bisa juga petani disalahkan, tak pandai manajerial. Tapi tolong, ada masalah besar yang dilakukan penjahat pertanian. Siapa itu?. Sindikat pemalsuan pupuk.

Di Jember sudah terungkap. Sempat simpang siur. Mulanya mencuat dari gedung Senayan di Jakarta. DPR Pusat, menyebut ada penimbunan pupuk bersubsidi. Kemudian polisi mengungkap, ternyata pemalsuan pupuk. Tak lama bergeser lagi infonya. Bahwa produsen pupuk tanpa izin. Muaranya sama, Kades Bangsalsari : Nur Kholis. 

Sindikat pemalsuan pupuk. Saya berani nyebut demikian, karena tak hanya seorang yang bekerja. Ada bos, otak penggerak, pembuat, penjual, hingga sampai ke tangan korban : petani. Tersistem yang demikian,  saya menyebutnya sindikat.

Residivis pemalsuan pupuk. Soal ini, diawal polisi yang mengungkap,  bahwa kades tersangka pemalsuan pupuk ini, pernah terjerat kasus yang sama. Berurusan dengan hukum. Bahkan sebelum jadi kades. Perbuatan kembali melawan hukum, pengertian saya itu residivis. 

Pejabat. Penyelenggara negara. Kades, bagian dari pucuk tertinggi di pemerintahan desa. Publik figur. Panutan. Harusnya jadi suri tauladan. Nah di kasus ini, kenapa malah sebaliknya?. 

Kemudian ada apa dengan hukum di negara kita?. Oknum kades pemalsu pupuk, sindikat yang juga residivis, masih bisa berkeliaran menghirup udara bebas. Sampai muncul statement polisi, sengaja tidak ditahan karena tenaganya dibutuhkan untuk pelayanan publik di desanya. 

Saya memilih menggunakan logika terbalik dari kepolisian. Saya khawatir, kasus ini menjadi yurisprudensi. Seperti jadi pembenaran. Sampai muncul persepsi di bawah alam sadar kita : begitu enaknya jadi kades. Punya hak istimewa. Jika sampai demikian, berbahaya!!!.

Bagi saya, pemimpin harusnya lebih memiliki beban moril. Karena tingkah lakunya, jadi panutan pengikutnya. Saya khawatir, meski memalsukan pupuk itu kriminal, salah, dosa, bisa jadi dinilai sesat. Pengikut,  orang yang mengidolakan mengganggap tidak masalah. Di situ kemudian,  kenapa orang penting harus dihukum berat.


(*) Penulis adalah inisiator Angak Ho Connection

Related

Opini 1831893300682717384

Posting Komentar

emo-but-icon

Duta Fortuna Reality

Duta Fortuna Reality

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Kapolres Jember Beserta Staf Dan Jajaran Mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2021i

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item