Ingin Untung Berlibat Tiru Petani Hidroponik Asal Desa Setail Genteng

Yoyon Sugianto Petani Desa Setail Genteng

MEMOPOS.com,Banyuwangi - Seiring trend gaya hidup sehat, pertanian hidroponik kini makin diminati. Selain, lebih mudah, murah dan hasil panen lebih, harga jualnya pun berlipat. Sampai 10 kali lipat dari hasil panen pertanian konvensional.

Ya, setidaknya itu yang telah dibuktikan oleh Yoyon Sugiyanto, petani hidroponik asal Dusun Jalen Darungan, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur. Dengan alasan itu pula, Yoyon tetap konsisten dengan metode cocok tanam yang sudah digelutinya sejak 2015 silam.

Yoyon bercerita, awalnya iya menekuni pengolahan kompos sebelum beralih ke hidroponik. Awalnya dia menanam sayur mayur di pekarangan rumah.

“Saat itu, sudah ada demplot-demplot skala rumahan dan skala produksi seperti kebun  jeruk, kebun buah naga, termasuk di pekarangan rumah,” katanya, Senin (21/3/2022).

Menurutnya, kendala saat itu banyak tak punya waktu untuk menyiram tanaman. Akhirnya, tanaman sudah bagus, jadi rusak.

“Saya mulai berpikir adakah sistem tanam yang tak ribet,” kenangnya.

Kala itu di Banyuwangi belum ada orang yang serius menekuni sistem tanam hidroponik.  Kalau pun ada, sebatas hobi.

“Saya pun belajar sendiri, dengan mencari sumber-sumber ilmu,” ungkapnya.

Berangkat dari enam lonjor pipa dengan 60 lubang, di depan rumah, Yoyon menanam sayuran dengan sistem tanam hidroponik. Setelah proses enam bulan belajar, pernah sempat dia merasa putus asa. Lantas diputuskan belajar ke luar daerah, Surabaya dan Semarang.

Setelah bisa proses tanam, dirinya mulai berpikir memperbanyak jumlah dan menjualnya. Dia bercerita, di awal masa penen, Yoyon mencoba menjual hasil panen pertanian hidroponik di Pasar Genteng.

“Masih ingat saya, saat itu saya menjual dua kilo sayur saja susah karena harganya mahal,” ujarnya.

Dari kesulitan pemasaran itu, Yoyon mulai berpikir, bahwa untuk mendapatkan nilai jual yang bagus, orang harus memahami apa itu tanaman hidroponik. Sebagai tindak lanjut, dia pun mulai rajin memberi edukasi ke masyarakat mengenai sistem tanam hidroponik. Dengan menggelar pameran berkali kali.

Setelah orang mulai paham akan sistem hidroponik, banyak yang tertarik mencoba produk sayuran hidroponik. Bahkan, ikut belajar tanam. Reaksi positif itu membuat Yoyon makin optimis dengan menambah luasan kebun.

“Saya berpikir mulai ada peluang. Dari situ saya mulai ada penghasilan,” jelas Yoyon.

Satu setengah tahun berjalan. Penghasilan mulai dirasakan. Yoyon mulai berani mengambil keputusan, makan tak makan tetap konsisten dengan sistem tanam hidroponik. Usaha kompos pun dia tinggalkan. Dia makin fokus. Tiap bulan, dirinya membuka tiga kali pelatihan. Hasil panen sayur pun mulai laku. Orang mulai tahu kualitas sayur dengan system tanam hidroponik.

“Beda, tekstur lebih renyah, segar, lebih sehat. Yang jelas tak menggunakan pestisida kimia,” ucapnya.

Kali pertama, lanjut Yoyon, dia membuat kebun hidroponik di belakang rumah dengan jumlah 2.800 lubang tanam, tanpa naungan. Sedikit demi sedikit keuntungan dia kumpulkan. Selanjutnya digunakan untuk membiayai pembuatan Green House.

Gayung bersambut. Saat itu, ada permintaan dari suplaiyer Surabaya, sebanyak 100 kilogram sayur per minggu.

“Tapi, saya belum bisa memenuhi kuota akibat kapasitas kurang. Pasar yang besar itu kuota harus besar dan tak boleh putus. Saya pun membuat jalan keluar dengan membentuk kelompok tani hidroponik,” tuturnya.

Dari peserta pelatihan, ada 19 orang yang sepakat. Dan tahun 2019, Yoyon memutuskan untuk menangkap peluang pundi-pundi rupiah dengan skala lebih luas. Dia pun mulai bermain produksi buah hidroponik. Berawal menanam melon korea dan ceri.

“Respon konsumen bagus. Bahkan banyak petani yang tertarik ikut membuat kebun,” katanya.

“Sampai sekarang ada beberapa investor. Saya pun juga melayani jasa pembuatan Green House sampai ke penanaman,” imbuh Yoyon.

Yoyon meyakini, peluang pasar buah hidroponik masih terbuka lebar. Dari segi harga pun bisa 10 kali lipat, lebih mahal. Apalagi didorong tingginya permintaan. Salah satu contoh, melon hidroponik. Komoditi tersebut sudah populer di luar daerah. Hanya, saja di Banyuwangi masih belum populer.

Buktinya, saat ini pasar buah melon hidroponik milik Yoyon, sukses menembus pasar luar daerah. Di antaranya, Bondowoso, Surabaya, Bogor dan Jakarta. Ini terjadi karena buah melon hidroponik Banyuwangi, kualitasnya tak kalah dengan produk luar daerah.

Untuk harga, tergantung jenis. Kisaran Rp 30-40 ribu per kilogram. Ingin meraup keuntungan lebih besar, kini Yoyon mengembangkan melon jenis Golden Aroma, Intanon, Sweet Net dan Honey Globe. Tiap jenis punya sensasi rasa tersendiri. Ada yang renyah, lembut dan manis legit. Produk melon hidroponik mahal karena dari segi benih, jenis premium. Di samping dalam proses tanam memang tak bisa sembarangan. Alias harus ada pengawasan khusus.

Melon hidroponik, sudah bisa dipanen pada usia antara 2,5-3 bulan. Tergantung jenis. Komoditas buah melon tersebut lebih ditamanakan dikembangkan didalam Green House. Lebih memudahkan pemantauan sekaligus meminimalisir hama.

“Yakni serangan hama, jamur dan cuaca. Bisa jadi belum usia panen sudah dipanen dulu. Karena daun sudah habis, terkena karak daun, jamur, tapi buah sudah bobot, akhirnya mau tak mau harus panen. Yang terjadi rasa manisnya berkurang. Selain itu, siatem tanam konvensional pemakaian inseksida pestisida, sangat tinggi. Berbeda jika ditanam di green house,” terang Yoyon.

Budidaya buah melon dengan sistem hidroponik mampu menghasilkan buah hingga berat 1,4 kilogram. Dengan menanam sebanyak 1.000 pohon, maka hasil panen bisa mencapai 1, 2 ton.

Yoyon menyampaikan, konsep hidroponik memang membutuhkan modal lumayan diawal. Per meter persegi, biaya pembuatan Green House lengkap dengan instalasi senilai Rp 600 ribu.

“Tapi dalam hitungan jangka panjang lebih ringan dari pada sistem tanam pertanian konvensional. Sistem tanam hidroponik ini, lebih mudah, lebih murah dengan harga jual bisa 10 kali lipat,” tandasnya.

Dengan potensi yang kian menjanjikan, tak heran beberapa pengusaha di Banyuwangi mulai ikut nimbrung. Di Bumi Blambangan, produk hidroponik paling diminati buah melon Golden Aroma. Rasanya manis dengan tekstur lebih renyah, daging tebal dengan warna orange. Harga per kilogram tembus Rp 30 ribu.

Produk pertanian hidroponik punya segmen pasar tersendiri. Seiring gaya hidup hidup sehat yang terus menjadi trend di masyarakat. “Saya ingin budayakan masyarakat Banyuwangi untuk mengonsumsi melon organik. Buah melon yang lebih sehat,” ungkapnya. (Im)

Related

Headline 4780135712625948018

Posting Komentar

emo-but-icon

Duta Fortuna Reality

Duta Fortuna Reality

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Kapolres Jember Beserta Staf Dan Jajaran Mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2021i

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item