FGD Eco Bhinneka Muhammadiyah Banyuwangi: Bahas Isu Kearifan Lokal, Toleransi dan Lingkungan

Kegiatan acara diskusi Bhineka tunggal ika lintas agama

MWMOPOS.com,Banyuwangi - Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyuwangi menggelar Focus Group Discussion (FGD) Eco Bhinneka. 

Kegiatan FGD kali ini membahas berbagai kearifan lokal di Bumi Blambangan, isu toleransi hingga pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. 

Hadir dalam kesempatan tersebut PD Muhammadiyah, PD Aisyiyah, PD Nasyiatul Aisyiyah, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, Badan Musyawarah Antar Gereja.

Selain itu juga hadir perwakilan dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh adat istiadat masyarakat Osing, serta para guru dan siswa.

Dalam kesempatan ini, Adi Purwadi, tokoh adat Osing menuturkan masyarakat Banyuwangi merupakan masyarakat majmuk yang memiliki berbagai kearifan lokal. 

Kearifan lokal ini dilakukan dengan berbagai macam tujuan. Seperti selametan dan rebo wekasan, yang tujuannya untuk menjaga mata air.

Ada juga tradisi pertanian, misalnya labuh tandur, labuh nyingkal, tandur, dan meteng. Sayang, budaya-budaya tersebut saat ini sudah mulai ditinggalkan.

Ia pun berharap kearifan lokal masyarakat Osing ini agar tetap dilestarikan karena itu bagian dari akar rumput, seperti halnya melestarikan lingkungan oleh antar umat beragama.

Di sisi lain, Ketua Majelis Pendidikan Kader PD Muhammadiyah Banyuwangi, Sunarto mengatakan, isu lingkungan dan toleransi masih menjadi kajian yang menarik.

Dengan beragam latar belakang masyarakatnya, maka perlu diadakan persamaan persepsi antara banyak pihak agar kemudian hari tidak terjadi kesalahpahaman.

Oleh sebab itulah, FGD ini sangat penting dilakukan agar permasalah yang muncul di masyarakat terkait isu toleransi dapat segera memperoleh solusi. 

"Di Banyuwangi ada sepuluh area kemajuan kebudayaan. Artinya sudah pas kalau nasional mau membuat model kegiatan Eco Bhinneka," ungkapnya.

Ia pun mengapresiasi langkah Pemkab Banyuwangi yang mengemas kegiatan budaya, agama, dan lingkungan dengan bentuk Festival.

Kegiatan festival ini akan merekatkan seluruh agama, suku, budaya, dan keragaman lainnya. Harapannya mulai dari anak dan orang tua akan muncul rasa kebhinekaan atau keberagaman.

"Ada lebih dari seratus festival di Banyuwangi. Nah jika JISRA mau mengangkat dua isu tentang lingkungan dan kebhinekaan kemudian dikemas ke dalam festival ini akan cocok sekali dengan inovasi yang ada," tuturnya.

Yos Sumiyatna, perwakilan umat Katolik menyampaikan banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. 

"Memilah sampah kemudian mendaur ulang menjadi pupuk, setiap keluarga membuat pupuk dari sampah dapur, diolah menjadi pupuk kompos. Jadi kegiatan ini oleh warga Katolik sudah dilakukan semenjak lima tahun terakhir," ungkapnya.

"Perayaan Paska yang akan datang juga temanya masih tentang konsep lingkungan hidup. Dengan tujuan mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna.” imbuhnya.

FGD ditutup dengan rekomendasi tindak lanjut program Eco Bhinneka. Harapannya yang didampingi tidak hanya satu desa dan sekolah, tetapi bisa meluas ke desa dan sekolah lainnya, agar lebih banyak yang merasakan manfaat dari kegiatan-kegiatan Eco Bhinneka.(Nur/Eko)

Related

Headline 7308943280233979257

Posting Komentar

emo-but-icon

Duta Fortuna Reality

Duta Fortuna Reality

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Kapolres Jember Beserta Staf Dan Jajaran Mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2021i

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item