Ide Brilian, Dinas Pendidikan Kota Mataram Lestarikan Budaya Lokal Lombok Sasak

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Drs. H. Lalu Fatwir Uzali S.Pd

MEMOPOS.com,NTB - Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) Drs.H.Lalu Fatwir Uzali, S.Pd, M.Pd.menyatakan pada akhir Smister ini kami dari dinas pendidikan kota Mataram mencoba berkolaborasi dengan budayawan yang ada di kota Mataram.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram NTB Drs. H.Lalu Fatwir Uzali,S.Pd, M.Pd, disela-sela kesibukan di ruang kerja nya saat ditemui Kepala Perwakilan Media Massa Nasional Cetak  dan Surat Kabar Online Muhammad Taqwa pada Senin, (29/11/2021) di Mataram NTB.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, NTB Fatwir Uzali yang dikenal cerdas itu menjelaskan “pihaknya  akan mempersiapkan langkah berikutnya yaitu bagaimana bisa kita kembangkan yang namanya muatan lokal. 

Muatan Lokal yang kita sepakati dari diskusi kita dengan para budayawan, para Kepala sekolah dan guru guru serta masyarakat,bahwa kita akan kembangkan budaya muatan lokal Lombok/Sasak.

Alasannya karena kita ini tinggal di Pulau Lombok maka budaya yang paling dekat dengan kita adalah budaya sasak. Entah orag dari mana mereka berasal dari seluruh Indonesia. Mereka harus tau bagaimanasih budaya dari Lombok atau sasak. tuturnya.

Dari hasil Diskusi itu kita mencoba mengambil sebuah kesimpulan yang berupa tindakan.

 Tindakan itu dengan memuat surat edaran kepada seluruh sekolah negeri maupun swasta mulai dari SDN dan SMP untuk kita bersama sama menyelenggarakan sebuah Kegiatan bernama saptu budaya. Yaitu seperti juga ditingkat SMA.SMK.

Saptu Budaya ini lanjut Fatwir yang berwajah fanteng itu, kita sudah mulai kemarin tanggal 27 November 2021 yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah.

Alhamdulllah anak anak menyambut dengan riang gembira dengan senang hati. Guru guru juga demikin. 

Maksud nya adalah disisi lain kita ingin anak anak ini mengenal lebih dekat misalkan tentang pakaian.

 yaitu pakaian orang Lombok/Sasak. Kemudian ada juga disitu Kuliner, masakan masakan yang mereka mungkin disekolah sekolah bisa buat.

Mungkin mereka ada plecin kangkung, mungkin ada buat ares dan lain lain. Banyak lagi,kuliner seperti cerorot,kali adem dan lain sebagainya.

 Disisii lain juga ada bisa mengembangkan misal kan permainan tradisional.

Ada namanya main Gatik, ada main sungklit,ada main slodor dan ada bermacam permainan permainan jelasnya.

Kemudian dengan mengembangkan bahasa. Bahasa itu tentu bahasa Sasak. Ada namanya bewaran bahasa sasak atau bercerita dalam bahasa sasak.

Demikian juga Pakaian. Pakian ini sebenarnya adalah salah satu saja bentuk kegiatan dari kebudayaan itu. 

Boleh anak anak tidak memakai baju adat. Baju adat itu sebenarnya Bukan baju adat tapi baju keseharian. 

Namanya baju keseharian orang sasak atau orang Lombok yang sudah diberikan contoh oleh sekolah.

Salah satunya, kalau perempuan itu memakai baju, namanya baju ambung. 

Nah baju ini memang ada yang punya dan ada yang tidak punya dan lain sebagainya.

Inilah baju keseharian itu.jadi intinya bukan pada satu satunya pengembangan muatan lokal itu hanyalah pakaian, tidak. 

Jadi hal itu adalah salah satu aja pakaian. Kalau juga tidak ada pakaian juga tidak ada masalah.ya boleh.Karena sekarang baru mulai.ungkapnya.

Mungkin kedepan misal nya pada tahun ajaran baru mungkin ya, baru anak anak,baru mulai.

 Mungkin orang tua yang nabungkan sedikit beli pakaian yang harganya agak murah meriah. jangan yang mahal mahal karena untuk sekolah buat anak anak pakai bermain.

Ini pakaian yang bisa berbuat beraktivitas.

Kalau orang Lombok dulu, disawah,dikebun,kemudian pergi kepasar dan lain sebagainya. makanya disebut pakaian adat sasak atau pakaian sasak keseharian. 

Bukan Pakaian Nyongkol. Bukan Pakaian orang Begawe itu. Bukan pakaian orang pesta.

Jadi itulah sehingga beberapa orang tua yang mungkin orang tua itu belum bisa membelikan, mengadakan,sehingga anak,anaknya juga anak  akhirnya menjadi keresahan masyarakat. 

Kami (Dinas Pendidikan Red) tidak memaksa anak anak. Saya kata Fatwir selaku Kepala Dinas paham betul kondisi disini.

Silahkan tidak ada masalah.Itu salah satu saja itu pakaian adat. Tidak kepakaian juga tidak ada masalah yang penting pada saat budaya itu ada kuliner.

Ada permainan,ada bahasa  dan ada juga hal hal lain yang muatan lokal itu. Tetapi mungkin akhirnya menjadi salah atau keliru pengertian mereka kepada yang disebut dengan saptu budaya itu.

Saya lihat lanjut Kadis yang santun itu, foto fotonya anak anak ada yang lagi masak, ada yang lagi main musik,ada juga yang main enggran.main Sungklit dan sebagainaya. Dan ada juga fashion memang seperti apa gitu. 

Dan saya berharap anak anak itu sederhana saja.Tidak harus anak anak itu pergi kesalon.

 Mungkin orang tuanya ingin anaknya cantik ya boleh.Tapi kan ini namanya sekolah.Kan tidak perlu pakai mik Up kalau kesekolah tapi namanya orang tua inikan promosnya pengembang salon mungkin ya sembari Kadis yang ramah itu tersenyum.

 Tapi kita (Dinas Pendidikan Red) tidak menyarankan untuk pergi kesalon. 

Masa untuk pergi kesekolah harus kesalon. Jadi tidak diwajibkan kesalon.tegasnya.

Bahwa kita ingin menggali kembali muatan lokal yang berhubungan dengan budaya lokal. Nanti mungkin kita akan mengembangkan kurikulum muatan lokal.

Mudah mudahan nanti ada kebijakan daerah untuk kita kembangkan kedepan tutup Kadis Pendidikan Kota Mataram Fatwir yang santun itu.


(Taqwa )

Related

Pendidikan 6871928041375080049

Posting Komentar

emo-but-icon

Cafe Angkringan RC Banyiwangi

Cafe Angkringan RC Banyiwangi
Cafe Angkringan RC Banyuwangi Kecamatan Banyuwangi

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Kapolres Jember Beserta Staf Dan Jajaran Mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2021i

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item