Pernyataan Sikap Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadyah NTB

DRS.Emi .,MM

MEMOPOS.com.NTB  - Menyikapi laporan dari Gerakan Anti Radikalisme (GAR) alumni Institut Teknologi Bandung terhadap Prof. Dr. KH. Sirajuddin Syamddin, MA ke Komisi Aparat Sipil Negara (KASN) pada bulan Oktober 2020 lalu. Dan beberapa hari ini informasi tentang laporan tersebut semakin terdengar meluas ke nusantara melalui berbagai media sosial. 


Demikian dikatakan Ketua Forum Komunikasi Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ( FOKAL IMM) NTB saat ditemui Media ini di Kampus Universitas Muhammadiyah Mataram NTB Drs Emil,MM didampingi Sekretaris Syafril,S.Pd.M.Pd. pada Senin (16/2/2021) di Mataram NTB.



Emil menuturkan bahwa laporan GAR ITB tersebut mengada-ada dan bahkan ada yang menyebutnya tersesat.


 Tentu saja, tudingan public tersebut bukan tanpa alasan mengingat informasi tentang laporan tersebut mengatakan bahwa Prof. Dr. KH. Sirajuddin Syamsudin, MA adalah tokoh radikal. Radikal dalam pengertian rezim yang mengidentikkan sebagai kelompok orang yang akan melakukan revolusi/perubahan yang instan untuk meruntuhkan kekuasaan yang syah. 


Meski sebenarnya pengertian radikal tidak selalu bermakna seperti yang dipahami oleh orang-orang yang ada dalam GAR (silahkan pengurus GAR baca kamus besar Bahasa Indonesia agar lebih mengerti Bahasa Indonesia dengan baik). 


Dosen senior itu menegaskan bahwa FOKAL IMM-NTB memandang apa yang dilakukan GAR ITB adalah bentuk kejahiliahan model baru. 


Hanya orang-orang yang diera sebelum masehi atau yang hidup di era dark age yang memandang kritik adalah kejahatan. 


Sejarah terbunuhnya Rene Descartes, Bruno, Galileo, Copernikus, bahkan rencana pembunuhan Nabi Musa as oleh Fir’aun dan Nabi Ibrahim as oleh Raja Namrud adalah kejadian-kejadian yang terjadi di era jahiliyah sebelum masehi. 


Tokoh-tokoh yang terbunuh dan yang hampir terbunuh itu adalah mereka yang memberikan kritik kepada penguasa yang dianggap tidak adil dan tidak pro pada rakyat kecil atau kebenaran ilmu pengetahuan. 


Di jaman kegelapan abad ke 12 sampai dengan abad 15 M juga terjadi persekusi dan pembunuhan pada mereka yang tidak menyetujui doktrin gereja ortodok saat itu.


 Salah satu yang sangat terkenal adalah Marti Luther. Semua terjadi karena berbeda dengan kekuasaan sehingga mereka yang berbeda harus dihukum.


Memperhatikan isi laporan GAR ITB ini, ada kesan bahwa kelompok ini ingin menghadirkan kembali suasana doktrin kepemimpinan raja yang cenderung pro kemapanan. 


Kami dari FOKAL IMM NTB telah membaca dengan seksama poin-poin penting isi laporan GAR ITB. 


Oleh karena itu, kami berani mengatakan bahwa isi laporan tersebut terkesan melanggengkan dogma kepemimpinan suci yang anti pada kritik.


Secara umum kami kritisi isi laporan tersebut sebagai berikut:

Isi laporan yang menyebut Prof. Dr. KH. Sirajuddin Syamsuddin sebagai orang yang konfrontatif karena GAR ITB memotong kalimat utuh dari berita Kumparan. 


Kami menganggap GAR ITB telah menyebarkan laporan yang bersifat sesat dengan tidak membaca keseluruhan isi berita kumparan. 


Jika dibaca dengan cermat isi berita Kumparan justru Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin meminta rakyat untuk menghargai keputusan MK dengan tentu saja tidak melupakan semangat untuk kritik.


Poin kedua dari isi laporan yang disampaikan oleh GAR ITB juga terkesan tidak mengambil secara utuh isi pernyataan Prof. Dr. Dien Syamsuddin saat Webinar. Saat Itu, Prof. Dr. KH. Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin menceritakan suatu jaman di mana ada kepemimpinan yang mirip dengan kondisi sekarang.


 Demikian seterusnya (silahkan buka kembali video Webinar MAHUTAMA). 

Isi laporan ketiga GAR ITB menuduh Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin melakukan framing yang menyesatkan masyarakat Indonesia. GAR ITB berani mengatakan masyarakat Indonesia padahal tidak semua masyarakat Indonesia menolak yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin.


 Setidaknya kelompok (Keluarga Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Se Indonesia menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan isi pernyataan Pak DS. Kata seolah-olah yang dilontarkan adalah kata tidak mengandung arti sebenarnya.


 Seperti seolah-olah monyet tapi sebenarnya manusia. Pengurus GAR ITB justru yang menciptakan framing menyesatkan terhadap isi pernyataan Pak DS dengan mengatakan Pak DS telah menyebarkan khabar bohong dan mengumbar ujaran kebencian.


Pada poin ke 4 isi laporan lagi-lagi GAR ITB semakin menunjukkan kelasnya sebagai kelompok jahiliyah gaya baru. KAMI disebut sebagai Oposisi pemerintah. Emang menjadi Opisisi adalah suatu yang aneh di negara demokrasi.


 Demokrasi besar dan berkembang karena adanya kelompok opisisi. Tentu saja opisisi yang tidak asal opisisi, melainkan opisisi loyal. 


KAMI adalah sekumpulan orang- orang yang memiliki semangat untuk membela NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan UUD 1945. (Silahkan baca dokumen KAMI) tentu dengan cara mereka sendiri sebagai orang yang merdeka dalam berpikir. 


Laporan poin 5 sama substansinya sama dengan poin laporan nomor 3. Jika mereka simak dan pelajari dengan seksama diksi yang disampaikan oleh Pak DS, maka tidak akan terjadi laporan yang membuat malu Institusi Perguruan Tinggi ternama di Indonesia. 


Pengurus GAR ITB mengesankan bukan alumni ITB, melainkan alumni dari kampus illegal dan tak berijazah.


Pada poin ke 6 laporan GAR ITB sekaligus poin terakhir, lagi-lagi menuduh bahwa Pak DS melakukan framing menyesatkan dan fitnah. Isi pernyataan Pak DS terkait kasus penusukan kepada allahuyarham Syech Ali Jaber mudahan beliau dalam limpahan magfirah Allah SWT. 


Pada poin nomor 6 ini justru semakin manampakkan niat sesungguhnya dari pelapor. GAR telah dengan sadar dan sangat jelas mengatakan bahwa penyataan Pak DS terhadap kasus yang menimpa allahuyarham Syech Ali Jaber dengan menyebut “GAR ITB melihat adanya Nuansa Licik dalam cara terlapor mendramatisir kasus kriminal tersebut”. Tuturnya.


Bahkan kalimat Pak DS yang mengajak ummat untuk tidak terhasut dinilai dianggap sebagai dapat menutupi esensi. Kalimat tidak dapat menutupi esensi kami anggap GAR ITB menuduh pak DS Licik. Hal tersebut sangat melukai hati kami sebagai kader-kader muda muhammadiyah. 


Sekaligus kami menilai bahwa laporan GAR ITB bukan hanya sesat menyesatkan tetapi justru menghadirkan gaya jahiliyah model baru.


Semua isi laporan yang dilayangkan oleh GAR ITB ke KASN tentang Pak DS mengandung kalimat tuduhan. Sejauh yang kami baca dari isi laporan tidak ada satu kosa kata dari isi laporan mengandung kata praduga tak bersalah. Seperti, “di duga yang terlapor mengedarkan berita bohong”. Sebutnya.


Harusnya, yang berhak untuk menyatakan status hukum seseorang adalah hanya Hakim di pengadilan. 


Perlu kami jelaskan bahwa apapun yang di sampaikan oleh Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin sejauh merupakan hasil kajian dan penilaian seorang pakar dibidang ilmunya, maka hal tersebut adalah wajar dan konstitusional. 


Konstitusional karena isi pernyataan beliau sebagai Guru Besar dan Dosen dilindung oleh UU nomor: 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Bagian Kedua Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Paragraf 1 tentang Kebebasan Akademik, Kebebasan Mimbar Akademik, dan otonomi kelimuan.


 Pada pengertian Kebebasan Mimbar Akademik pasal 9 ayat (2) disebutkan bahwa kebebasan akademik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1) merupakan wewenang professor dan/atau Dosen yang memiliki otoritas dan wibawa ilmiah untuk menyatakan secara terbuka dan bertanggungjawab mengenai sesuatu yang berkenaan dengan rumpun ilmu dan cabang ilmunya. 


Ironis, 2.000 lebih orang yang menandatangani laporan tersebut tidak pernah membaca UU nomor 12 tahun 2012 seakan-akan mereka benar-benar tidak terdidik di Institusi Pendidikan Tinggi ternama. Kami saja yang sekolah di Swasta membaca UU tersebut.


Jadi, apa yang disampaikan oleh Pak DS tentang situasi negara dan politik nasional adalah suatu yang masih relevan dengan ilmunya. Silahkan dibaca beberapa buku-buku atau tulisan yang pernah dibuat oleh beliau.  Bagi yang tidak sepakat disilahkan buat tanggapan balik yang mengandung konsep dan argument yang terukur. Bukan melaporkan argument dan hasil pikiran kritis dan akademis.


Pernyataan Atas pertimbangan tersebut, maka kami dari FOKAL IMM NTB menyatakan sikap.

Meminta GAR ITB meminta maaf kepada Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin karena telah menyatakan sesat, menfitnah, mengedarkan berita bohong, dan menyebut beliau dengan nuansa Licik, Naudzubillahi minzalik. 


Salah sorang tokoh yang menjadi panutan kami di Muhammadiyah dilecehkan oleh organisasi yang tidak tercatat di Kemenkumham adalah salah satu bentuk kedzaliman. Prof. Dr. KH Dien Syamsuddin bukan hanya milik Muhammadiyah melainkan milik ummat karena pernah menjadi Dewan Penasehat MUI, utusan khusus Presiden bidang dialog peradaban, sekarang masih menjadi wali amanah ITB. 


Mendesak ITB untuk meminta alumni yang tergabung dalam GAR ITB tidak membuat pernyataan yang mewakili ITB. 


Mendesak KASN untuk mengembalikan laporan dari GAR ITB secara tidak tertulis karena GAR ITB adalah organisasi yang tidak tercatat di Kemenkumham.


Jika dalam waktu sepekan ini, pihak GAR ITB tidak memenuhi harapan dari kami kader mudah Muhammadiyah, maka kami akan melanjutkan masalah ini ke ranah hukum. Tutupnya.


Taqwa NTB.

Related

Headline 7501565961755597563

Posting Komentar

emo-but-icon

Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin SIK.MH.

Kapolres  Jember AKBP Arif Rachman Arifin  SIK.MH.
Kapolres Jember Beserta Staf Dan Jajaran Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Jatuhnya Pesawat Sriwijaya SJ - 182

Kodim 0824 Jember

Kodim 0824 Jember
Keluarga Besar Kodim 0824/Jember Beserta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 38 Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden Republik Indonesia Ke - 3)

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Kapolres Jember Beserta Staf Dan Jajaran Mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 9 Februari 2021i

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item