Cak Munir Masih Hidup

Penulis : Andik Sugiono (Pemred Memo Pos)

Pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib, raganya terkubur sejak diracun penjahat penghianat bangsa : 7 September 2004. Tepat 12 hari sebelum ulang tahun sepupunya : dr. Faida, MMR.

Kematian Direktur Eksekutif Imparsial, itu menjadi catatan sejarah di Indonesia, yang tak pernah hilang terkubur, meski belum terjawab pasti : siapa otak dari kejahatan terkeji di republik ini?. Namun Cak Munir masih hidup. Semangat perjuangan dan nilai luhurnya, tertular ke para anak bangsa lainnya. Termasuk ke sepupunya : dr. Faida, MMR.

Sepupuan dengan Bupati Jember? Ya, autentik. Jamilah, ibu Cak Munir, kakak kandung ayahnya Bu Faida : dr. Musytahar Umar Thalib. Ibunya Cak Munir budenya Bu Faida, dan ayah Bu Faida Omnya Cak Munir.

Munir, teriak lantang melawan ketidakadilan. Melawan rezim yang tak adil. Dia pun tak menginginkan, rakyat kecil tertindas di tanah subur, tempat mereka dilahirkan.

Faida, sang adik sepupu, kemudian sadar, melanjutkan perjuangan tak selamanya harus menabrak rezim. Dia pun memilih jalan yang lebih "Stratak" : Faida merebut rezim.

Memulai dari Pilkada Jember 2015. Faida, berhasil membuka pintu perjuangan, menegakkan Hak Asasi Manusia. Memimpin Jember, dengan semangat tegak lurus menjaga nilai idealisme. Dia pun mendeklarasikan Jember ramah HAM.

HAM dalam perspektif Faida, konkrit dan implementatif. Dia menggratiskan biaya sekolah hingga mengobral beasiswa perguruan tinggi. Target 5 ribu beasiswa kuliah, realisasinya : dia sukses menguliahkan 12 ribu mahasiswa asal Jember di berbagai daerah. Diploma, S1, S2, hingga S3.

Kesehatan gratis menghapus stigma "rakyat melarat dilarang sakit", menjadi perjuangan pemenuhan HAM lainnya di Jember. Ya, si miskin sakit bisa gratis pakai SPM. Tak hanya itu, kaya-miskin sama saja, ke rumah sakit bisa pakai ambulans desa gratis.

Tak hanya itu saja perjuangan pemenuhan HAM ala Faida di Jember. Program pemerintahan peduli disabilitas, juga menjadi prioritas. Paling populer, kepedulian pada duafa (baca : kaum marhaen).

Sederet jejak perjuangan pemenuhan HAM di Jember, rupanya disorot nasional hingga dunia Internasional. Bahkan setahun lalu, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengundang khusus Bupati Faida, menghadiri forum HAM Internasional di Genewa Swiss. 

Sepulang dari Markas Besar PBB, Jember pun menjadi tuan rumah Festival HAM. Kali pertama digelar di Bumi Pandhalungan Jember. Bahkan di Jatim. Komnas HAM, Komnas Perempan, Komnas Anak, hingga beberapa aktivis HAM dunia, datang ke Jember : kabupaten yang dipimpin adik sepupu pejuang HAM Munir.

Faida, bukan hanya Faida. Ada integritas sederet nama pemilik reputasi di keluarganya. Tentu, nama baik mereka dijaga supaya harumnya terus terasa. Sampai akhirnya tersadar, bahwa jabatan pilihan tepat merubah keadaan ideal banyak orang, atas dasar keadilan.

Related

Opini 1198453728250387657

Posting Komentar

emo-but-icon

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik
Semoga Almarhum Di Terima Disisinya Dan Yang Ditinggalkan Diberi Ketabahan (Selamat Jalan Komandan Kami Keluarga Besar Memo Pos Jember Selalu Panjatkan Doa Untukmu)

Kodim 0824 Jember

Kodim 0824 Jember
Keluarga Besar Kodim 0824/Jember Beserta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 38 Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden Republik Indonesia Ke - 3)

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Ciptakan Pilkada Jember Aman Dan Damai

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item