Kegagalan Parpol Mesin Pencetak Pemimpin

Penulis : Andik Sugiono (Pemred Memo Pos) 

Kemudian semisal pasti, Pilkada Jember hanya diikuti tiga calon : Faida - Vian, Hendy - Firjaun, Salam - Ifan. Keenam warga Jember terbaik itu, sama sekali bukan kader partai politik.

Tak ada satu pun diantara mereka, disiapkan Parpol untuk memimpin Jember. Nalurinya, muncul dari kehendak pribadi. Bukan lahir dari didikan parpol. Parameternya jelas. Keenamnya bukan kader.

Sebut saja Hendy dan Firjoun. Tiba-tiba saja, di gedung bioskop, mereka mendadak NasDem. Diberi KTA, kemudian disebut kader, dan layak terima rekomendasi NasDem dengan 8 kursinya di DPRD Jember.

Sejarah politik seperti ini, tentu menguntung NasDem. Tanpa harus mendidik, partai sudah langsung peroleh kader jadi. Terlebih jika Hendy - Firjaun, terpilih jadi Bupati Jember. NasDem pasti menagih jasa. Perkuat suara partainya. Begitu, realita di politik Indonesia.

Abdussalam alias Cak Salam. Pengusaha tajir asal Balung, ini pun demikian. Bahkan dia lebih hebat, dalam konteks identitas politik. Jauh hari, alat promosi citra dirinya, tak pernah luput dengan logo PDI Perjuangan. Cak Salam pun, seolah-olah begitu marhaenis.

Kasak-kasuk berkembang, Cak Salam yang tak pernah kedengaran ber-PDIP, rupanya santer menjadi pemilik rekom partainya Bu Mega, bersama Mas Ifan. Lantas, kemana tagline "Kader Dewe" PDIP Jember?.

NasDem punya Marzuki, PDIP ada Bambang Wahyoe, PKB miliki Cak Ayub, PPP masih bersama Gus Mamak. Namun kader militan masing-masing parpol itu, kandas diganti para tamunya. Bolehkan saya tanya, apa kabar parpol di Jember?

Sejatinya, memang tak ada parpol yang mau kalah disetiap pertarungan. Namun persepsi itu, sempit. Sebab kemenangan sejati parpol, bukan hanya jaya saat coblosan. Namun lebih kepada, bagaimana merealisasikan cita-cita ideologis.

Ssssst, jangan ramai jika parpol beda ideologi, bisa koalisi. Rakyat mulai tahu, hanya demi kepentingan. Bukan berjuang menjadi benteng penegak ideologi. Artinya, selain hoby mencari pemain "bon-bonan", partai juga sekedar jaga gengsi kemenangan.

Lantas, tidak salah abang becak di sana, pengemudi ojek pangkalan, serta buruh tani di ladang juragan, menyebut rekomendasi partai tak lebihnya tiket masuk nonton kongser.

Nah salahkah kemudian, jika banyak anak bangsa enggan capek berproses di rumah partai? Mereka, lebih memilih di luar, cari uang, jaga ketenaran, pertinggi popularitas. Jika sudah digenggam, tinggal pinjam kendaraan partai. Renungkan.!!! (*)

Related

Opini 7543674879046400702

Posting Komentar

emo-but-icon

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik
Semoga Almarhum Di Terima Disisinya Dan Yang Ditinggalkan Diberi Ketabahan (Selamat Jalan Komandan Kami Keluarga Besar Memo Pos Jember Selalu Panjatkan Doa Untukmu)

Kodim 0824 Jember

Kodim 0824 Jember
Keluarga Besar Kodim 0824/Jember Beserta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 38 Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden Republik Indonesia Ke - 3)

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Ciptakan Pilkada Jember Aman Dan Damai

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item