Anas ,Ipuk Dan Tudingan Dinasti Politik

Penulis : Noval Wahyu Tsani (*)

Dinasti politik menjadi isu yang dipaksakan seksi, di Pilkada serentak 2020. Seksinya tambah genit, setelah anak dan menantu presiden, maju Pilkada Solo dan Medan.

Jatim, juga kebagian seksinya manuver dinasti politik. Ya, setelah nyonya Abdullah Aswar Anas : Ipuk Fiestiandani, maju untuk melanjutkan perjuangan sang suami, memimpin di Bumi Blambangan Banyuwangi.

Beberapa organ mengaku kelompok tertentu, klaim representasi warga Banyuwangi. Bersikap melakukan penolakan atas sikap politik Anas dan istri. Ya meski sulit dipastikan kesahihan, kelompok lahir dadakan itu.

Materi atas penolakannya politik dinasti yang dikoarkan, menandakan mereka lemah refrensi. Akhirnya, cenderung salah kaprah.

Mari simak tentang terminologi dinasti politik. Demokrasi dewasa ini, tak ada warisan jabatan politik tanpa restu rakyat. Sebab republik demokrasi keadilan, sang penguasa sejati ialah rakyat. Ingat, tak ada kerajaan di sistem pemerintahan kita.!!!

Tanpa rakyat, jangankan sekedar istri bupati dua periode, anak dan menantu presiden dua periode pun, tak bakalan terpilih jadi Walikota Solo dan Medan.

Buktikan saja di Pilkada 9 Desember 2020, civil majority bakal pilih siapa? Jika suara mayoritas mehendaki keluarga penguasa sebelumnya, pliss, jangan salahkan rakyat. Karena rakyat tuan sejati di republik merdeka kita ini.

Semua sadar, tipikal pemilih memiliki kualifikasi : pemilih rasional dan tradisional. Namun setradisional apa pun rakyatnya, jika tingkat kepuasan publik atas pemimpin sebelumnya tinggi, maka tak salah peluang penerus penguasa dari keluarga mereka, elektabilitasnya juga ikutan tinggi.

Kembali ke Banyuwangi. Jika menakar soal konsep petahana, sejatinya ada di Wabup Yusuf Widiatmoko. Karena secara devinitif, dia Wakil Bupati Banyuwangi dua periode. Kemudian, Ipuk juga benar, ikut disebut petahana karena ada suaminya. Artinya, Ipuk dan Anas tak bisa dipisah di Pilkada Banyuwangi 2020.

Anas banyak yang suka. Meski juga, tidak sedikit yang tak menghendakinya. Namun dia dan keluarga, punya hak maju dan memajukan siapa pun di Pilkada Banyuwangi tahun ini. Semisal regulasi tak mengatur maksimum dua periode, mungkin Anas memilih tiga periode untuk Bupati Banyuwangi. 

Itu sah. Sama sahnya, Wabup dia yang ingin naik kelas jadi Bupati Banyuwangi, hingga rela melawan arus kuat partai : PDIP yang ikut membesarkan nama dan karir politiknya.

Sekarang begini. Anas punya produk hasil kerja selama menjabat. Yusuf pun demikian. Tinggal bagaimana sang juri : rakyat, yang menilai siapa lebih layak antara Ipuk dan Yusuf?

Membandingkannya tentu tak boleh parsial. Ipuk ya Anas dan Anas ya Ipuk. Mereka digaransi partai pengusung PDIP - NasDem, PPP, Gerindra, Hanura, serta partai gurem. 

Kemudian secara logis, juga tak mungkin Anas membiarkan orang yang dia cintai, meninggalkan sendiri Ipuk memimpin Banyuwangi. Karena Ipuk, membawa nama besar Anas yang mulai menasional. Ipuk gagal, Anas pun (karir politiknya) diujung tanduk.  

Tim Ipuk - Sugirah, tentu bakal melakukan kapitalisasi kesuksesan Anas versi mereka. Yusuf, memiliki hak yang sama, pamer hasil kerja selama menjabat Wabup Banyuwangi bersama Anas. Tapi yang sulit dilakukan Yusuf, mengkritik rezim Anas. Karena dia ada di dalam sistem. Berani kritik, sama dengan menggali kuburan sendiri.

Banyuwangi, sudahi manuver isu dinasti politik. Beri pendidikan politik cerdas, supaya demokrasi lare Osing, bisa leluasa memainkan improvisasinya, layaknya penari Gandrung yang kini dikenal dunia. Jenggirat Tangi Banyuwangi.


Penulis adalah Pemuda Kebalenan (*)

Related

Opini 5418259836772946702

Posting Komentar

emo-but-icon

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik
Semoga Almarhum Di Terima Disisinya Dan Yang Ditinggalkan Diberi Ketabahan (Selamat Jalan Komandan Kami Keluarga Besar Memo Pos Jember Selalu Panjatkan Doa Untukmu)

Kodim 0824 Jember

Kodim 0824 Jember
Keluarga Besar Kodim 0824/Jember Beserta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 38 Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden Republik Indonesia Ke - 3)

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Ciptakan Pilkada Jember Aman Dan Damai

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item