Wacana Partai (Tak) Rekom

Penulis : Andik Sugiono (Pemred Memo Pos) 

Tak mengejutkan lagi. Memang begini adanya. Pesilat politik di Jember, memang jago memainkan jurus "opini publik". Kadang membingungkan. Tapi yang terbaru ini, menunjukkan ruang pesimistis.

Bisa jadi, pesimis melengserkan petahana : Bupati Faida. Atau, ragu atas kualitas elektoral penantang petahana. Jika tidak keduanya, kenapa muncul wacana Petahana Vs Kotak Kosong.

Politik kotak kosong, sejatinya bagian dari demokrasi tertua di Indonesia. Pernah diimplementasikan di momen Pilkades. Kemudian, Pilkada mengadopsinya. Khusus, bagi calon kepala daerah tunggal : tanpa lawan.

Calon tunggal, memang ada. Bahkan bagi yang genit, dikondisikan. Tentu, supaya gampang menangnya. Namun soal regulasi lawan kotak kosong, bisa-bisa dikalahkan. Artinya, pemilih calon tidak lebih besar dari kotak kosong. Pernah terjadi di Makassar.

Beberapa daerah bisa saja trauma. Sampai-sampai kembali ke "laptop". Ketimbang malunya tak ketulungan, mending lawan calon boneka.

Nah, di Jember mulai muncul wacana petahana dilawankan kotak kosong. Salah seorang pengusul gagasan ini politisi PKB. Bukan kaleng-kaleng. Sebab si dia, pernah jadi anggota DPRD Jember, saat itu fraksi PKNU. eks Ketua Komisi A.

Si dia bernama Muhammad Jupriadi. Namun di akun FB-nya, sudah berganti lebih kekinian dengan nama Jufriadi Muhammad. Gagasannya pun, dia posting Sabtu (18/7) pukul 14.29 waktu Facebooker.

"kemungkinan partai2 tdk merekom siapapun untuk pilkada Jember. Menurut saya, ditengah berbagai isu rekom dan surat tugas ini, menarik juga untuk dipertimbangkan. Partai jangan merekom siapapun. Biarkan petahana melawan kotak kosong," tulisnya di akun FB-nya, sambil menyinggung sentilan Donny Tri Istiqomah.

"Ini sekaligus sebagai pembuktian dan untuk menjawab pendapat rakyat pada petahana. Jika petahana terpilih kembali, itu artinya rakyat tdk mempan oleh berbagai peristiwa selama ini dan berkeinginan petahanan memimpin kembali. Tetapi jika kotak kosong yg menang, itu artinya rakyat memang berkeinginan petahana keluar dari pendopo," begitu lanjutan unggahan Jupriadi.

Sebelumnya, akun Donny Tri Istiqomah yang mirip dengan nama aslinya, memang sempat menulis gagasan serupa. Bahkan, dia main data hasil survei, tentang elektabilitas petahana yang ditudingnya terus jeblok di angka 28 persen.

Namun sayang, seribu miliar kali sayang. Bung Donny yang mantan aktivis mahasiswa, pengacara ibu kota, serta pernah nyaleg DPR-RI di PDI P Dapil Jember - Lumajang (Namun sayang gagal), tak melengkapi data sumber surveinya.

Sebab sejatinya, survei politik sekali pun, bagian dari hasil kerja akademik faktual yang tentu, wajib dipertanggungjawabkan. Soal metodelogi, sistem kerja pengumpulan data, hingga tempat dan sumber dana survei, patut disampaikan setransparan mungkin. Jangan-jangan, data elektabilitas petahana merosot, tempat surveinya di kantor Bung Donny, yang terlanjur memilih sikap oposisi?

Nah, lontaran kedua politisi asal Jember yang beda kasta di partai berbeda ini, patut dituding masyarakat awam sebagai goyangan panik. Mulai bingung, karena khawatir penantang petahana tak sepadan.

Ya, mari tengok kebelakang. Kala itu, muncul gerakan borong rekom partai, jangan sisahkan untuk petahana. Kemudian, muncul episode berikutnya. Semua calon bersatu, usung satu nama musuhnya Faida. Sampai Faida-Vian lahir dengan jalur non partai (perseorangan). Rupanya, rekom rakyat bakal sah untuk bu dokter dan mas pengusaha muda.

Ya Ya Ya lagi. Kenapa begini? Bisa-bisa, mereka tahu, betapa beratnya lawan Faida. Sampai mau "dikeroyok", hingga dibiarkan sendiri dan harus lawan kotak kosong.

"Makzulkan saja Faida, biar tak bisa nyalon lagi", bisa jadi itu episode berikutnya. (*)

Related

Opini 49651270367114337

Posting Komentar

emo-but-icon

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik
Semoga Almarhum Di Terima Disisinya Dan Yang Ditinggalkan Diberi Ketabahan (Selamat Jalan Komandan Kami Keluarga Besar Memo Pos Jember Selalu Panjatkan Doa Untukmu)

Kodim 0824 Jember

Kodim 0824 Jember
Keluarga Besar Kodim 0824/Jember Beserta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 38 Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden Republik Indonesia Ke - 3)

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Ciptakan Pilkada Jember Aman Dan Damai

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item