Covid - 19 Membawa Dampak Besar Terhadap Perekonomian Indonesia Salah Satunya Pada Sektor Pariwisata

Nama : Novita Dwi Herlina
NIM : 182020100012
Prodi : Administrasi Publik


       Covid-19 atau virus corona telah ditetapkan badan kesehatan dunia atau WHO sebagai penyakit pandemic atau penyakit yang persebarannya sudah ke berbagai Negara. Penyakit ini memiliki gejala awal yang mirip seperti influenza atau penyakit yang sudah dipahami masyarakat. Antara lain demam, sakit tenggorokan dan batuk  yang akan reda selama 4-5 hari, sementara pada covid-19 gejala akan berlanjut hingga lebih dari 10 hari dan diikuti oleh gejala lain. Namun, kita tidak bisa menganggap remeh penyakit ini. Karena penyebarannya yang sangat cepat. Hingga berpengaruh terhadap perekonomian.
 
  Selain kesehatan, serangan virus yang telah menjangkiti lebih dari 43.000 orang di lebih dari 20 negara ini dan menewaskan 113 jiwa sudah ikut dirasakan Indonesia. Serangan penyakit ini juga dirasakan di sektor pariwisata. Dalam empat bulan terakhir ini ternyata serangannya cukup signifikan efeknya apalagi kalau kita lihat per lima Februari 2020 sudah ada penghentian penerbangan dari dan menuju Tiongkok oleh Pemerintah Indonesia sehingga pemerintah Tiongkok pun juga sudah mulai mengevakuasi 5000 an warga negara nya yang tertahan di Bali. Padahal kalau kita ingat Tiongkok ini di tahun 2019 adalah negara asal kedua turis mancanegara yang datang ke Indonesia, belum lagi kalau di lihat di bulan Januari dan Februari ini biasanya adalah bulan tertinggi kunjungan wisatawan asal Tiongkok ke destinasi wisata andalan favorit mereka yaitu Bali dan juga manado.
 
  Data terakhir tingkat hunian atau okupansi di hotel Manado dan juga Bali sepanjang Januari 2020 kalau kita bandingkan dengan bulan januari 2019, ada penurunan yang cukup signifikan. Berikut ada data yang didapat dari ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia). Di manado Periode Januari sampai dengan Februari ternyata mengalami penurunan, di 2020 turun menjadi sekitar 30 sampai dengan 40 persen saja, sementara biasanya hingga mencapai 70 persen. Demikian pula di Bali yang turun okupansi hotel nya menjadi sekitar 40 persen, biasanya tingkat okupansi Hotel di bulan Januari atau pun juga Februari, umunya ini adalah bulan perayaan imlek ini ada di angka 60 sampai dengan 70 persen. Jadi dengan kata lain penurunan ini pastinya juga akan berimbas ke sektor-sektor lain termasuk misalnya ada restoran, tempat belanja. Karena kalau turisnya kurang, maka yang belanja juga kurang. Nah kurang lebih kalau menurut perhitungan PHRI, dengan asumsi jika ada 3000 wisatawan Tiongkok yang datang ke Indonesia setiap harinya maka dalam 60 hari berarti atau 2 bulan ada total sekitar 18.000 wisawatan asal Tiongkok. Jika 18.000 wisatawan ini mengeluarkan dalam setiap kunjungan sebesar US$ 1.100 maka dalam waktu 2 bulan potensi kerugian yang diderita oleh pariwisata Indonesia ini mencapai 200 juta, itu baru dari Tiongkok saja, kalau dari Negara lain yang terjangkit oleh Wabah Corona misalnya ada Amerika Serikat kemudian juga Singapura, tentunya akan menambah lagi potensial loss yang diderita oleh pariwisata Indonesia, dan jika penutupan penerbangan dilakukan sampai dengan 6 bulan kedepan maka otomatis nilai 200 juta ini pun juga akan berlipat lagi akan semakin besar menjadi sekitar US$ 600 atau hampir 8,2 triliun rupiah, itu baru dari sektor pariwisata saja. Bagaimana dengan sektor lainnya, ada sektor ekonomi lainnya walaupun kita tahu juga sejak mengalami perlambatan di tahun lalu, tetapi Tiongkok ini masih merupakan kekuatan ekonomi terbesar dunia menyumbang lebih dari 30 persen pertumbuhan ekonomi dunia dan juga 16 persen PDB Global. Nah Indonesia yang merupakan mitra strategis dagang Tiongkok otomatis rentan terkena imbas.
 
  Bank Dunia memprediksi kalau ada 1 persen penurunan ekonomi Tiongkok maka ini akan membuat ekonomi Indonesia juga ikut mengalami penurunan sampai dengan 0,3 persen. Ini sangat mungkin karena Tiongkok  merupakan negara tujuan ekspor pertama Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 16,66 persen dari total ekspor non-migas Indonesia. Data dari kementerian perdagangan di tahun 2019 nilai ekspor non-migas Indonesia paling besar Tiongkok sebesar US$ 9,6 miliar kemudian ada Amerika Serikat sebesar US$ 7,3 miliar, berikutnya ada Jepang US$ 5,7 miliar, India US$ 5 miliar, dan negara tetangga kita Singapura berada pada peringkat ke-5 tujuan ekspor dengan nilai sekitar US$ 3,4 miliar .
 
  Ekspor non-migas ini di dominasi oleh bahan bakar mineral senilai US$ 6,2 miliar lalu kemudian berikutnya ada lemak dan minyak hewan, dan nabati. Kemudian ada besi dan baja, biji, terak serta abu logam. Lalu juga di urutan ke 5 ada pulp dari kayu sebesar US$ 2 miliar. Nah tentunya dengan kata lain penurunan ekspor ini pun akan berpengaruh pada neraca dagang Indonesia Tiongkok. Membahas soal neraca dagang, kita tahu sejak atau hingga November 2019 ini sudah ada defisit yang begitu lebar. Ada defisit kalau dilihat kondisi neraca dagang Indonesia dan juga Tiongkok walaupun ini merupakan mitra strategis tetapi dari sisi Perdagangan Impor kita selalu lebih besar dibandingkan Tiongkok sampai dengan November 2019 sudah ada defisit sebesar  US$ 15,7 miliar. Ini sudah mengalami sedikit penurunan, karena kalau kita tahu di 2018, GAP nya paling besar yaitu terjadi defisit mencapai US$ 18,4 miliar.
Pada 2019 sudah ada perbaikan, tetapi kalau di 2020 ketika misalnya terjadi wabah Corona ini dan juga ada perlambatan ekonomi disana, yang akan berimbas ke Indonesia. Jika Indonesia tidak segera mencari pasar baru, maka defisit ini akan semakin melebar. Belum lagi soal kekhawatiran industri dalam negeri yang kita tahu banyak sekali bergantung pada impor bahan baku dari Tiongkok. Ada potensi terganggunya supply disana, ini juga jadi peluang baru untuk indonesia seperti yang sudah disampaikan oleh presiden jokowi beberapa waktu lalu. Selain itu juga kemungkinan yang akan terasa dampaknya, soal investasi. Bahwa ternyata sepanjang 2019 Tiongkok berhasil menyalip Jepang sebagai negara yang paling banyak menanamkan uangnya di Indonesia. Sekarang Tiongkok berada di posisi kedua dengan nilai investasi US$ 4,74 miliar, sementara Singapura berada di posisi pertama sebesar US$ 6,5 miliar. Jepang posisi ketiga, selanjutnya Hongkong dan peringkat kelima adalah Belanda. Untuk Tiongkok sendiri, proyek investasi tersebar di 2.130 proyek. Karena itu tentunya Indonesia harus waspada terhadap potensi gangguan yang akan timbul.
Masih ada juga potensi lain yang rentan ikut sakit akibat mewabahnya virus Corona misalnya ada sektor ritel yang paling nyata terganggu. Lalu ada penerbangan yang juga jika penutupan nya ini berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama, maka ada potensial loss disana bagi maskapai-maskapai di Indonesia. Selain itu juga ada potensi-potensi lain yang harus diwaspadai.

Related

Opini 6966895613846764800

Posting Komentar

emo-but-icon

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik
Semoga Almarhum Di Terima Disisinya Dan Yang Ditinggalkan Diberi Ketabahan (Selamat Jalan Komandan Kami Keluarga Besar Memo Pos Jember Selalu Panjatkan Doa Untukmu)

Kodim 0824 Jember

Kodim 0824 Jember
Keluarga Besar Kodim 0824/Jember Beserta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 38 Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden Republik Indonesia Ke - 3)

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Ciptakan Pilkada Jember Aman Dan Damai

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item