Sedusun Rp 300 - Rp 500 Juta, Gagasan Siapa?

Contoh Baner Yang Terpasang Di Jalan

Penulis : Andik Sugiono (Pemred Memo Pos) 

Perjalan menuju Surabaya. Tak punya e-Tol, terpaksa melintas di jalan aspal gratisan. Sejak naik mobil, mata ngantuk tak tertolong. 16/3/20

Sudah tiga jam di perjalanan. Seharusnya sampai Sidoarjo. Mata pun memandang langit, yang terang karena sang surya. Namun kaget. Kenapa masih di Jember? Oh tidak. Harusnya Sidoarjo.

Ternyata benar. Sudah sampai Sidoarjo. Namun heran, kenapa ada gambar baliho Calon Bupati Jember di Sidoarjo? Kenapa demikian, karena terbaca gagasan program andalannya "Rp 300 juta - Rp 500 juta Per Dusun Per Tahun".

Terus saya perhatikan. Ternyata sadar, itu baliho dengan orang berbeda. Sebab baliho yang di Sidoarjo, tanpa jargon "Jember Jenggirat". Setelah saya kembali membacanya, gambar yang di Sidoarjo, tertulis nama Achmad Amir Aslichin.

Amir, yang saya tahu politisi PKB. Saat ini, dia duduk sebagai legislator DPRD Jatim. Dia anak sulung Bupati Sidoarjo non aktif, Saiful Illah. Bapaknya terjerat kasus OTT KPK.

Kembali ke Jember. Sebagai warga Jember, saya tentu bingung. Kenapa gagasan programnya sama? Apakah kebutuhan publik Jember dan Sidoarjo sama pula? Tentu, oh tidak.

Lantas siapa yang beride original? Bagi yang menirunya, bisa dong disebut penyontek. Jika mengutip bahasa ilmiah, plagiat. Atau, kedua kandidat beda daerah itu, memiliki konsultan politik yang sama? Sehingga idenya pun, mirip-mirip persis. Wallahu a'lam.

Kejadian yang saya alami itu, rupanya juga dialami keluarga istri yang dari Banyuwangi. Jenggirat Tangi, itu sudah populer di Banyuwangi. Tak heran akhirnya, saudara mengira yang di Jember itu, bakal calon Bupati Banyuwangi. Maklum, di Banyuwangi juga bersamaan perhelatan Pemilukada 2020.

Saya pun mencari literasi tentang apa itu Jenggirat?. Kemudian, muncul beberapa definisinya. Paling buat ngakak, saat google mengartikan bahasa Indonesia dan Jawanya. Kemudian muncul Jawa : Jenggirat, arti bahasa Indonesianya Jenggot. Padahal, foto bakal calon yang di Jember tak berjenggot.

Belum puas dengan itu, buku sejarah Banyuwangi pun akhirnya mampu membantu atas jawabannya. Ya, Jenggirat Tangi merupakan semboyan khas Banyuwangi, yang memiliki arti filosofis “beranjak bangun” atau “lekas bangkit”.

Harusnya, jika saya sebagai bakal calon pemimpin Jember, tentu sejak dini mulai memasyarakatkan istilah penyemangat Jember. Bukan Banyuwangi. Sebab pengabdiannya, untuk Jember. Lantas boleh dong, saya bertanya. Anda cinta Jember apa Banyuwangi? Atau, pilih Sidoarjo? Kalau Memopos.com, lebih tertarik pada Jember. (ndik)

Related

Opini 5495782367496101861

Posting Komentar

emo-but-icon

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik

Redaksi Memo Pos Mengucapkan Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya IPTU Ainur Rofik
Semoga Almarhum Di Terima Disisinya Dan Yang Ditinggalkan Diberi Ketabahan (Selamat Jalan Komandan Kami Keluarga Besar Memo Pos Jember Selalu Panjatkan Doa Untukmu)

Kodim 0824 Jember

Kodim 0824 Jember
Keluarga Besar Kodim 0824/Jember Beserta Persit Kartika Chandra Kirana Cabang 38 Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (Presiden Republik Indonesia Ke - 3)

Kapolres Jember

Kapolres Jember
Ciptakan Pilkada Jember Aman Dan Damai

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item